Sejarah Desa Tlekung

24 April 2026
Admin
Dibaca 3 Kali

SEJARAH DESA TLEKUNG

Sejarah Desa Tlekung bermula sekitar tahun 1814, yang pada masa itu wilayah ini masih berupa hutan belantara. Menurut cerita para sesepuh desa, kawasan tersebut dulunya digunakan sebagai tempat latihan ketangkasan dan keperkasaan bagi prajurit Kerajaan Singhasari dalam menghadapi musuh. Tradisi latihan ini bahkan berlanjut hingga digunakan oleh prajurit TNI sebagai lokasi latihan militer.

Pembukaan wilayah Desa Tlekung dipelopori oleh para leluhur, salah satunya adalah seorang tokoh bernama Putri Larmini. Beliau bersama para pendahulu lainnya membuka hutan dan membuat jalur penghubung dari arah Gading Kulon menuju Desa Seruk. Jalan yang dibuat tersebut memiliki banyak tikungan dan belokan, sehingga kemudian dikenal dengan istilah “mlekung-mlekung”. Dari istilah inilah nama “Tlekung” berasal dan digunakan hingga saat ini. Jejak sejarah tersebut masih dikenang melalui nama Jalan Larmini yang berada di Dusun Gangsiran.

Dari sumber sejarah yang berkembang di masyarakat, diketahui bahwa terdapat empat orang leluhur yang berasal dari wilayah Solo. Tiga orang di antaranya menetap dan membuka wilayah Desa Tlekung, sedangkan satu orang lainnya bergerak ke arah selatan dan membuka wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Gading Kulon di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Para pendiri desa membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk menata lahan, termasuk mengolah persawahan dan sistem pengairan.

Seiring perkembangan waktu, wilayah Desa Tlekung terbagi menjadi beberapa dusun dengan sejarah penamaan masing-masing:

  • Dusun Krajan Tlekung, merupakan pusat awal permukiman. Nama “Tlekung” diambil dari kondisi jalan yang berkelok-kelok (mlekung-mlekung).
  • Dusun Gangsiran Ledok, dahulu dikenal dengan nama Kali Ampo. Nama “Gangsiran” berasal dari kegiatan menggali atau memotong bukit untuk membuat akses jalan penghubung antar wilayah.
  • Dusun Gangsiran Putuk, merupakan wilayah permukiman yang berada di atas bukit (putuk), sehingga dinamakan sesuai dengan kondisi geografisnya.

Selain sejarah pembentukan wilayah, Desa Tlekung juga memiliki kekayaan kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satu tradisi yang tetap dijaga adalah selamatan desa yang dilaksanakan setiap tahun pada hari Rabu Wage malam Kamis Kliwon di bulan Agustus. Rangkaian kegiatan dimulai dengan pemasangan “iber-iber” di punden dan sumber mata air, dilanjutkan dengan kenduri perangkat desa, serta diakhiri dengan kenduri masyarakat yang dilaksanakan secara serentak di berbagai titik desa.

Dalam perkembangannya, Desa Tlekung terus mengalami kemajuan, baik dari segi infrastruktur, pemerintahan, maupun kehidupan sosial masyarakat. Namun demikian, nilai-nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal tetap dijaga sebagai identitas dan jati diri masyarakat Desa Tlekung.